Saturday, December 23, 2017

Karawo NYFW- Aplikasi di Kaos dan Bag
model juga memakai Upia Karanji*
Tingkat kerumitan  Karawo patut membuat seni sulaman kain khas Gorontalo ini mendapatkan perhatian khusus. Proses pembuatannya  memakan hari, dikerjakan dalam beberapa tahapan yang menuntut ketelitian dan ketekunan.  Dan, hanya manusia yang bisa mengerjakannya, tidak bisa dengan mesin. Jadi Karawo adalah hand-made bukan machine-generated. Nah, mungkin belum banyak dari kita yang tahu tentang Karawo, sebuah seni endemik yang sempat ‘menghilang’ di jaman Belanda dan digairahkan kembali karena Gorontalo tak mau kehilangan jati dirinya.  Sebagai bagian dari warga nusantara, saya rasa kita wajib berkenalan dengan Karawo, sebuah seni warisan leluhur Gorontalo bernilai luhur. Mari Jo !

Apa itu Karawo? Beruntung saya bisa bercakap-cakap dengan Agus Lahinta, seorang perancang busana dan penggiat Karawo yg juga telah mendirikan Rumah Karawo. Dari Agus, saya mendapat cerita seru tentang Mokarawo atau Karawo. Karawo adalah seni menyulam diatas lembaran kain, atau disebut juga, teknik iris-cabut-sulam. Sederhananya begitu.


Motif Hiu-Paus di NYWF-Photo by Agus
Apa uniknya Karawo?

Namun rumitnya, Karawo dikerjakan dalam 5 tahap. Wow. Pertama, merancang motif diatas lembaran kain. Kedua, pengirisan benang dari serat kain.  Pengrajin mencari serat kain lalu diiris berdasarkan motif tadi. Semakin tipis jenis kain semakin sulit mengiris benang kain tersebut. Ketiga, pencabutan. Serat kain tadi dicabut agar benang sulam nantinya bisa masuk. Keempat, pola diikat agar bentuk square bisa padat dan keras. Diikatnya pakai benang. Kelima, barulah disulam dengan benang aneka warna mengikuti pola. Setelah selesai mokarawo, kain diproses jadi aneka model pakaian, kemeja, kaos,  mukena, syal, bahkan bisa diaplikasikan di dompet, tas , jaket, dll.

Karawo Dulu dan Sekarang

Karawo dulu terbatas diproduksi untuk baju imam masjid dan warnanya tidak semeriah sekarang serta kain yang digunakan lebih monoton. Karawo sekarang, diproduksi dengan lebih banyak kreativitas , warna, dan ragam jenis kain. Karawo mulai dikenal di tanah air setelah memenangkan lomba kain se-Indonesia tahun 2007-2008 karena dinilai rumit dari tingkat pembuatannya. Lima proses berbeda dikerjakan oleh 5 perajin dengan keahlian khusus. Kain yang paling mudah diaplikasikan Karawo adalah katun sementara kain sutra adalah kain yang sulit sehingga kehati-hatian mutlak perlu agar bahan tidak rusak. Kalau berkunjung ke Gorontalo bisa datang ke daerah Telaha, Tapa dan Kabupaten untuk melihat pembuatan Karawo. Atau bisa juga datang ke Rumah Karawo-nya Uti Agus di Kota Gorontalo, instagramnya di @rumahkarawo

Sang Designer- Agus Lahinta
Bomber Jaket Bersulam Karawo
Karawo Di Luar Negeri

Motif-motif kekinian seperti Benteng Otanaha, Burung Maleo, Whale Shark dengan komposisi warna dan potongan trendi pakaian jadi solusi untuk meningkatkan citra Karawo agar lebih fashionable, wearable, dan up-dated. Dengan meningkatkan kemasan, mutu bahan, design dan aplikasi produk serta motif, Karawo telah menunjukkan pesonanya di level internasional seperti yang telah diperagakan oleh Uti Agus Lahilita di ajang New York Fashion Week, 2017. Apresiasi  terhadap Karawo di ajang tersebut sangat bagus, kata Mas Agus kepada saya. Wah hebat yah!

Karawo dan Harapan Para  Pengrajinnya   Di Gorontalo sendiri anak-anak muda sudah banyak yang memakai pakaian bersulamkan Karawo. Para pejabat pemerintah, instansi swasta , dan masyarakat umum juga memakai pakaian Karawo. Upaya pemerintah setempat melalui Karnaval Karawo adalah sebagai wujud nyata dukungan terhadap Karawo. Pemerintah Propinsi Gorontalo juga sudah menetapkan 23 Januari sebagai Hari Karawo dan Kemendikbud juga memberikan prediket Warisan Budaya Tak Benda pada Karawo di tahun 2014. Para perajin Karawo terus berharap agar pemerintah dan para filantropi konsisten mendukung penuh perkembangan Karawo hingga bisa lebih terkenal. Kita doakan ya, jadi nanti yang viral di Instagram bukan hanya Batik, Songket, atau Tenun Ikat, tapi juga Karawo. Go Go Karawo!

Ibu Resma Kobakoran, Kabid Pengembangan Pemasaran
Pariwisata Dispar Prop.Gorontalo - dalam Blouse Karawo

Aldi Inaku- Runner Up 2 Uti Gorontalo
2017 - dalam kemeja bersulam Karawo
 

*Upia Karanji- Peci Khas Gorontalo
Padanan Fashionable Karawo





















Tuesday, December 19, 2017

Warna-Warni Karnaval Karawo
Pembukaan Festival Karawo 2017    
                           
Pada Famtrip Gorontalo 2017, saya sangat beruntung berkenalan lebih dekat dengan alam dan budaya Gorontalo yang indah dan memesona. Propinsi yang usianya baru 17 tahun ini , bagaikan remaja kekinian yang bersolek dan mempromosikan diri agar lebih dikenal wisatawan nusantara dan mancanegara. Salah satu upaya promosi tersebut dilakukan melalui Karnaval Karawo 2017, sebuah parade peragaan busana dengan mengedepankan seni kerajinan sulaman khas  Gorontalo, Karawo.

Hujan Berhenti , Kupu-Kupu dan Burung Menari

Seperti berkah, rintik-rintik manja sang hujan menemani jelang pembukaan festival. Selepas Paduan Suara UNG menggelegarkan suara mereka diatas pentas,  acara pun resmi dibuka oleh Bapak Gubernur Propinsi Gorontalo, Drs. H. Rusli Habibie dan Bapak Kepala Perwakilan Bank Indonesia, H Suryono SE MM . Bentangan red carpet jadi tempat laluan model-model bertubuh jangkung, para Uti dan Nou Gorontalo. Saya selalu heran dengan model, mengapa tubuh mereka begitu menjulang dengan kaki-kaki yang panjang. Jadi kalau berfoto didekat mereka, terlihat seperti dwarf , hehe.  Ada sekitar 40 kontingen dari pemerintah dan swasta. Bahkan juga peserta dari luar Gorontalo. Ratusan model yang mewakili kontingen berjalan sejauh 1.6 km dari depan rumah dinas gubernur dan berakhir di depan Gedung Bank Indonesia. Stamina yang hebat mengenakan busana yang berat. 

Empat (4) Warna Gorontalo

Seolah menjadi selebrasi pesona alam dan budaya Gorontalo, tema Birds and Butterfly yang diambil panitia penyelenggara saya rasa sangat pas mewakili Karnaval Karawo 2017. Pakaian warna-warni yang diperagakan tetap dengan menyertakan ornamen sulaman Karawo. Burung Maleo menjadi pembuka peragaan busana yang dibawakan oleh model cantik Gorontalo, menyusul warna-warni lainnya yang mengusung kekhasan Gorontalo. Ada juga motif Whale Shark, Benteng Otanaha, burung-burung migran yang kerap melewati udara Gorontalo, kupu-kupu aneka warna, dan masih banyak lagi. Empat warna yang menjadi kebanggaan Gorontalo membuat saya jatuh cinta pada tempat ini sejak pada hari pertama saya tiba di Holuntalo. Hijau sebagai lambang kesuburan, Kuning sebagai tanda kesetiaan, merah sebagai lambang keberanian, dan ungu tanda kewibawaan. Semua warna favorit saya ada di Gorontalo. 

Kenalan Dengan Karawo
Penasarankan dengan bagaimana keunikan Sulaman Karawo, sulaman khas budaya Gorontalo, Simak tulisan saya selanjutnya Yah. Saya akan bahas lebih detil supaya kita lebih kenal dengan Karawo. Lebih kenal maka Lebih Sayang, betul kan.
UNG Choir di Pembukaan Karnaval Karawo

Add caption

Pembukaan oleh Bapak Gubernur dan Kepala BI


















Monday, December 4, 2017


Gerimis yang turun menyejukkan siang setelah kunjungan kami selesai dari Desa Adat Bubohu. Bus kembali bergerak ke utara mengarah ke kota. Rombongan akan melanjutkan perjalanan melihat benteng bersejarah peninggalan Portugis, Benteng Otanaha.  Jarak dari Kota Gorontalo ke Benteng Otanaha kurang lebih sejauh 9 km atau ditempuh dalam waktu 25 menit. Turut serta dalam rombongan, TV Malaysia, Bernama, yang meliput kegiatan Famtrip Gorontalo 2017.


Benteng Otanaha
Benteng Temuan Naha Ota dalam bahasa Gorontalo berarti benteng. Tersebutlah Raja Gorontalo, Raja Ilato,yang mempunyai beberapa anak. Salah satunya, Naha yang konon suka mengembara. Kemudian, Naha menemukan benteng yang oleh penduduk setempat diberi nama sesuai namanya. Ada 2 benteng yang berdekatan letaknya, yaitu Otahia dan Ulupahu. Hia adalah istri dari Naha. Sementara Pahu adalah nama anak mereka. Ulu dalam bahasa setempat bisa diartikan milik dari atau kepunyaan.


Percakapan dengan No'u Gorontalo
Saya sempat bertanya-jawab singkat dengan seorang No’u Gorontalo yang  berprofesi sebagai pemandu wisata. Berikut petikan percakapannya : 


Ulupahu dan Bibir Danau Limboto
Apa kesan para pelancong setelah mereka melihat Otanaha? “Rata-rata mereka terkesima dengan landscape view-nya yang katanya breathtaking. Ada pemandangan Danau Limboto yang indah.  Untuk menuju ke benteng, kita harus melewati anak tangga yang jumlahnya 353 buah. Ada 4 post perhentian. Lelahnya terbayar begitu sampai diatas dengan pemandangan yang indah. Tapi jika tak kuat naik, bisa lewat jalan biasa dengan kendaraan kok". 

300-an Anak Tangga
Kapan waktu yang paling baik mengunjungi Otanaha? Ada yang jual souvenir disekitar benteng? “Disarankan kunjungi Otanaha sore hari, selain tidak panas, melihat sunset sangat indah dari sini.  Fotographer ataupun turis biasanya datang ke sini senja. Untuk toko souvenir tidak tersedia, hanya ada di kota”. 

Apa yang harus diperbaiki atau ditingkatkan untuk objek wisata dari tiga benteng tersebut? “Kebersihan, penataan tempat, pelestarian Danau Limboto dari eceng gondok dan pendangkalan. Dan yang lebih penting lagi, perawatan dan perlindungan terhadap benteng dan habitat burung-burung sekitarnya dari  pengaruh buruk manusia”.


Papan Informasi untuk 3 Buah Benteng
Apa yang unik dari benteng Otanaha?
“Yang khas dari struktur Otanaha adalah batu-batuan karang yang tersusun direkatkan dengan putih telur burung Maleo, salah satu species endemik yang terancam punah, selain itu benteng ini memang terbuka bagian atasnya”

Berapa biaya masuk ke Benteng dan kendaraan umum yang bisa dipakai menuju Benteng? 
"Untuk masuk ke benteng hanya membayar 5 ribu rupiah. Kendaraan umum yang paling mudah yaitu Bentor. Dari kota menuju benteng bisa membayar 10 ribu rupiah saja. Pintar-pintar saja me-nego". 

Apa anak-anak muda Gorontalo suka mengunjungi Benteng Otanaha?"Rata-rata anak muda Gorontalo memang suka berwisata ke alam terbuka. Selain ke pantai, mereka suka datang ke Benteng dan perbukitan. Benteng Otanaha ini adalah spot untuk mengambil foto yang keren dan instagrammable apalagi saat sore. Jepret, jepret langsung masuk deh ke instagram mereka".  Like !



Gambar Atas : Kru TV Malaysia, Bernama, Sedang Melakukan Recording
Gambar Tengah : Ibu Ivone Wungguli, Dari Dinas Pariwisata dan Penyambutan Tarian Longgo-Seni Bela Diri Gorontalo
Gambar Bawah : Rombongan ASITA






Saturday, December 2, 2017


Awalnya saya mau menjuduli tulisan ini dengan 'Fakta Unik' namun takut didebat oleh para dosen dan akademisi, hehe. Jadi untuk lebih nyamannya, inilah 7 hal unik yang saya temukan selama saya berkunjung ke Holuntalo alias Gorontalo dari tanggal 24-28 November 2017 dalam acara Famtrip Gorontalo yang pertama.

Bentor berwarna-warni : Sarana Transportasi dan Aset Wisata
1. Ternyata ada satu jalan di Kota Gorontalo, yaitu Jalan Yos Sudarso yang banyak ditemukan tempat meluruskan rambut. Pemandangan salon-salon dengan papan nama  bertuliskan “Rebonding” menghiasi tepi jalan raya  saat saya berkendara ke arah selatan menuju Desa Bubohu. Kata  Aldi, teman saya asal Gorontalo, di sekitar tahun 2002 tren meluruskan rambut sampai ke Gorontalo sehingga gadis-gadis setempat pun tidak ingin ketinggalan. Kini, sepanjang jalan tersebut dikenal juga dengan sebutan kampung rebonding.

      2.          
Bisa Ditutup Saat Hujan; Ayo Adakan Festival Pacu Bentor
Bentor adalah kendaraan umum khas di kota dan Provinsi Gorontalo. Bentor berbentuk mirip becak namun ditarik sepeda motor dengan bagian atap yang memanjang kebelakang hingga melindungi bagian kepala pengemudi. Sementara dibagian depan, penumpang duduk seperti naik becak pada umumnya. Bagian atap bisa ditarik kedepan hingga menutup sampai kekaki penumpang. Jadi aman dari kebasahan dan dandanan tidak rusak kalau mau pergi ke pesta. Bentor cukup banyak tersedia hingga malam, tinggal cegat saja dipinggir jalan. Mudah-mudahan kedepannya ada bentor online yah dan jangan diganti sama ojek motor biasa. Sekalian melestarikan budaya lokal dan mengadaptasi teknologi. Oya Pak dan Bu, boleh juga loh diadakan festival Bentor Hias supaya makin banyak wisatawan yang datang ke Gorontalo.


3. Rumah-rumah di Gorontalo sebagian besar beratapkan seng. Berbeda dengan rumah-rumah di Jawa yang kebanyakan beratapkan genting tanah liat. Kata orang Holuntalo, karena genting terbuat dari tanah liat maka kalau tidur beratapkan tanah (liat), ibarat tidur di dalam liang lahat. Wah unik juga ya pemikirannya. 
   Tuna dengan Nasi Jaha alias Lemang
buatan khusus Ibu Sekda Gorontalo- Istimewa

4. Hampir semua makanan Gorontalo bercita rasa gurih pedas dan orang Gorontalo suka sekali makanan laut. Secara geografis, posisi wilayah Gorontalo diapit oleh dua perairan, di utaranya Laut Sulawesi sehingga banyak terdapat pantai-pantai putih nan indah dan diselatan ada Teluk Tomini dengan karang-karang yang banyak sekali ikannya. Ayo, zaman sekarang semua harus suka ikan ya. Makan ikan itu bikin sehat dan cerdas lo. Wah, jadi teringat Cakalang Fufu,  Ikan masak Woku, Tuna segar dan udang-udang goreng itu, yummy...


5. Gea dan Eka, pemandu saya dari Gorontalo Tour Guide (GTG) bilang “Kak Belly,        pemandangan yang khas Gorontalo itu adalah kalau ada bentor yang angkut kursi anyaman rotan menjelang lebaran. Itu adalah saat dimana Kakak bakal merasa benar-benar di Gorontalo” Selain itu mereka juga bilang kebiasaan warga muslim Gorontalo adalah mengecat rumah sekali setahun menyambut lebaran. Oya, tradisi kerukunan umat beragama di Gorontalo juga patut diacungi jempol, warganya hidup rukun disana. Gea bilang, umat beragama Gorontalo toleransinya tinggi. Hebat ya!

 6.  Masih seputar lebaran, ada kebiasaan pemasangan lampu “Tumbilotohe”.  Lampu ini dari botol kaca diisi minyak tanah dan ada sumbu kompornya untuk menyalakan api. Waktu dulu, orangtua-orangtua yang ingin ke mesjid butuh bantuan penerangan, jadilah dibuat tumbilotohe. Mungkin nanti kalau ada undangan pas puasa, saya bisa lihat langsung ya. 

7. Hampir semua orang yang saya temui bilang, Gorontalo daerah yang aman. Bahkan dimalam hari, kalau ada kambing-kambing yang berkeliaran di pekarangan tidak ada yang mau ambil. Tapi yang jelas yang saya rasakan, Orang Gorontalo itu sangat ramah. Uti dan No'u Gorontalo murah senyum dan ramah. Oya, Uti adalah sebutan untuk laki-laki dan No’u untuk perempuan, semacam mas dan mbak. Subjektif-kah pendapat saya? Ya sudah datang saja dan rasakan. Baru percaya.


Mari Ka Gorontalo, Jo!

No'u (kiri) dan Uti (kanan) Gorontalo di Festival Karawo 2017






Friday, December 1, 2017


“Pikilangiya wawu turusi karajayi wolo u oto bilanto wawu lato syukuruwa waliliyo”


Tiga cuaca

Uti Uet, pemandu kami bilang, ada 3 jenis cuaca di Gorontalo. Hujan, panas, dan panas banget. Saya terkekeh bersama peserta lain didalam bus. Saya pikir akan ada musim buah-buahan untuk jenis cuaca ketiga, atau itu hanya ice-breaking cara si Uti menyapa kami.  Bersama dengan rombongan dari ASITA (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies), saya diundang oleh Dinas Pariwisata Pemerintah Propinsi Gorontalo dalam acara Famtrip Gorontalo yang pertama. Acara kunjungan 5 hari ini bertujuan mempromosikan pariwisata Gorontalo secara nasional dan global.

Famtrip Gorontalo Pertama :  Desa Adat Bubohu
Foto oleh Febrian ASITA Gorontalo

Kecamatan Tanjung Keramat; Koloni Pesisir

Agenda dimulai pada hari yang terasa nyaman, Sabtu 25 November 2017.  Bus meninggalkan tempat menginap di Hotel Grand-Q menuju selatan sejauh 9 km, berkelak-kelok mengikuti alur bukit dan menyisir pemandangan pantai. Di tempat bermuaranya Sungai Bone yang bertemu dengan air asin Teluk Tomini, rumah-rumah penduduk beratap seng berbaris membentuk koloni pesisir. Saya sudah tak sabar menyaksikan hal-hal menarik dan menuliskannya dalam rangkaian kata membentuk kalimat. Mari Jo.

Kunjungan  ke Desa Adat Bubohu

Alunan suara  nasyid, musik religius islami, terdengar sayup saat turun dari bis. Saya memasuki taman wisata religius desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo yang dirawat sebagai  desa adat dimana tempat ini juga menjadi pesantren alam. 

Lambang Kerajaan
Gorontalo seperti yang kita kenal adalah salah satu pusat penyebaran Islam di wilayah timur Indonesia. Agama dan budaya berinteraksi  menghasilkan anyaman pembauran. Kerajaan Bubohu yang sudah ada sejak tahun 1750 menjadi pusat akulturasi budaya dan religi di wilayah Bongo dan sekitarnya. Kini, Desa Bongo juga dikenal dengan nama Desa Adat Bubohu.

Merawat tradisi sangatlah penting. Seperti halnya  ‘Walima’ yang merupakan acara peringatan maulid atau hari lahirnya Nabi Muhammad SAW yang dirayakan meriah di desa Bubohu. Penduduk membuat kue ‘Kolombengi’ yang bersusun seperti kubah masjid atau mirip bonggol jagung. Lalu Walima diarak beramai-ramai menuju masjid sambil penduduk berzikir dan melantunkan doa-doa. Tradisi ini sudah ada sejak masa Sultan Amay dan sampai kini menjadi daya tarik wisata yang dipelihara oleh penduduk dan pemerintah Gorontalo. Datanglah ke Bubohu pada Hari Maulid Nabi untuk bisa menikmati tradisi meriah ini.


Anak-Anak Santri

Wambohe dan Para Santri yang Bergaya
Anak-anak santri bermain sambil belajar di teduhnya pepohonan, ditemani segarnya kolam air jernih dan  burung-burung yang berterbangan. Empat buah ‘Wambohe’ rumah khas Gorontalo berjejer menghadap kolam menjadi tempat mereka belajar agama dan sejarah Gorontalo. Dibagian bawah seperti bale-bale yang terbuka terdapat foto-foto kegiatan masyarakat Bubohu dan rangkaian kata mutiara dalam bahasa daerah setempat.

Kalimat yang memberi semangat pada generasi muda Gorontalo itu berbunyi “Pikilangiya wawu turusi karajayi wolo u oto bilanto wawu lato syukuruwa waliliyo” yang artinya “Pikirkan dan terus kerjakan apa yang kita inginkan dan nikmati serta syukuri hasilnya”. 

Sungguh Bijak!


Pesantren Alam Nan Asri
Gerbang Depan : Miniatur Walima dengan Kue Kolombengi









Tuesday, November 21, 2017




Dadakan bukan cuma Tahu : Liburan Juga :-)

Pernah dengar tukang jualan tahu " Tahu Bulat , Digoreng Dadakan" sempat tren di Bandung dan Jakarta tahun ini. Nah cerita saya kurang lebih juga seperti tahu dadakan. It was unplanned.

Liburan ke Bandung sepertinya sudah jadi menu traveling akhir pekan yang reguler bagi warga Jakarta. Tentunya pesona keindahan alam ditambah dengan kuliner khas kota kembang jadi daya tarik utama bagi mereka yang lelah dengan hingar bingar metropolitan. Sebagian yang lain, mungkin jenuh dengan lantai marmer mengilap pusat perbelanjaan atau gedung-gedung pencakar langit yang kalah asri dibandingkan perbukitan. Dan terkadang, diskon dari mall pun bisa diabaikan demi kabur sejenak dari Jakarta.

Malam itu, dua orang teman tiba-tiba mengajak saya kabur ke Bandung. Karena saya orang yang sangat suka spontanitas, ajakan tersebut langsung saya iya-kan. Tanpa persiapan apapun, tidak masalah. Yang penting ada hape, dompet, cash dan kartu. Saat itu kami berada di sekitar area Lebak Bulus dan akhirnya setelah menunggu dan sempat merasa tidak akan berhasil mendapatkan bus, lewatlah Primajasa tujuan Garut via Cileunyi. Kami berhasil naik bus tersebut dan turun di Cileunyi. Kurang lebih 3 jam dan Rp 40.000 saja, cukup nyaman ber-AC dan sampai selamat di Cileunyi. Diatas bus tadi, hotel pun telah dibooking lewat Agoda.com. Kami beringsut dari Cileunyi dengan angkot menuju pusat kota Bandung. 17 kilo jaraknya dan 2 kali mengganti angkot, ditemani hembusan angin malam dan pipi yang mendingin.

Saya dan dua orang teman saya  tiba di hotel Kenangan, tepat disamping Kantor Gubernur di Jalan Kebon Sirih, Bandung. Hotelnya unik memiliki nuansa vintage, bersih, dan bersahaja. Dan yang jelas hemat dikantong saya yang masih pengangguran ini, hehe. Rp 398.ribu dengan tiga beds plus AC, hot water, dan sarapan. Keren kan.

Salah satu teman  mengusulkan untuk berkunjung ke Bukit Maribaya di Kabupaten Bandung Utara. Ada sebuah tempat berwisata yang namanya The Lodge Maribaya Resort. Jaraknya kurang lebih 12-14 km dari pusat kota Bandung. Dan, sangat beruntunglah kita yang hidup dijaman sekarang, saat mobil orang lain bisa dipakai dengan mudahnya melalui pemesanan aplikasi handphone, lengkap dengan supir pula. Kami naik GrabCar bertiga menuju perbukitan, menembus jalan yang dikanan-kirinya diselingi rumah penduduk dan orang-orang yang memperbaiki jalan. Saya melihat kondisi jalan menuju Bukit Maribaya belum terlalu bagus, banyak lubang-lubang dan perbaikan gorong-gorong. Semoga pemerintah setempat segera perbaiki ya, soalnya malu sama mobil-mobil keren yang lewat, berplat luar kota pula. Infrastruktur jalannya segera diberesin ya Pak, hehe.


Bukit Maribaya : Ayo Foto-Foto sambil Bersepeda Gantung
Mobil merambat pelan saat hampir tiba karena banyaknya antrian kendaraan pengunjung. Areal parkir mobil dan motor tersedia disana jadi tidak heran diakhir pekan terlihat begitu banyak pengunjung membawa keluarga mereka. Dan saat saya keluar dari mobil, udara segar langsung mengelus pipi, lebih dingin dari ac mobil si akang, hehe. Pemandangan hijau membentang , perbukitan menjulang dan pepohonan menghampar,  membuat saya semakin ingin bergegas menuju antrian membeli tiket masuk. Harganya Rp 25.000 per orang dengan satu welcome soft drink yang sudah termasuk didalamnya.
Balkon Lereng Utama-Ramenya Yang Berfoto

Area utama wahana di Bukit Maribaya berbentuk seperti cekungan dengan pemandangan lereng bukit yang hijau penuh pohon cemara yang tampak seolah bersusun-susun. Para pengunjung yang sudah siap dengan berbagai jenis kameranya, tak sabar ingin jepret sana-sini. Ditiap pojok dan jalur menuju wahana, dengan latar belakang bukit hijau bercemara, gaya selfie dan we-fie para pengunjung membuat perhatian saya sempat teralihkan antara perbukitan asri dan merasakan keriangan pengunjung. Dan, tentunya situasi ini membuat saya susah untuk mengendalikan diri untuk tidak ikut serta ber-we-fie bersama dua sahabat saya. Tap, Tap, Tap.

Mereka ber-Zip Bike Ria : Saya Jadi Model Mentor Dadakan
Ada beberapa wahana yang tersedia. Diantaranya yang paling menarik perhatian saya  adalah Zip Bike. Di wahana ini, pengunjung menaiki sepeda diatas tali besi yang merentang dari satu lereng bukit ke ujung lereng yang lain. Ada dua utas tali besi, sehingga dua orang pengunjung bisa menaiki sepeda secara hampir bersamaan. Safety belt, helmet, vest, dan juga ada penjaga tali yang membantu. Namun puncak atraksi utama yang membuat saya terkejut adalah bukan karena naik sepeda yang diatas ketinggian itu  melainkan,… berfoto!
Ya, jadi setelah si pengunjung mengayuh sepeda lalu ditengah-tengah, tepat dengan latar belakang pemandangan hijau-daun bukit cemara, guard diujung lereng menghentikan sepeda mereka. Seorang fotografer dari arah depan, di sisi lereng muka, siap dengan kamera mumpuni memotret sang pengayuh sepeda. Click, click, dan bergayalah sesuka dan semaksimal mungkin, seolah top model yang tak ingin tereliminasi diajang pencarian bakat, hehe.

Kesenangan yang saya pribadi rasakan adalah bukan dengan menaiki sepeda itu, karena memang sang teman-lah yang memang pengen naik. Saya memilih duduk didekat sang fotographer sambil meneriakkan kata-kata penyemangat dan mengarahkan pengunjung bagaimana harus berpose. Yes, serius. Teriakan-teriakan saya ternyata menghibur para pengunjung yangs sedang menunggu antrian Zip Bike dan juga pengunjung yang sedang menggantung bersama sepedanya. Saya yakin hasil foto mereka akan bagus, karena andil saya juga, hehe. “ Panjangin Kakinya Mbak, Kepala Mendongak Mas, Jangan Membungkung, Tangan Gaya Superman, Kakinya naik ke  stang, Senyum yang Lebar” dan lain-lain sampai suara saya serak. Hahaha.

Zip Bike Si Sepeda Gantung

Selesai diambil gambar, sang pengunjung tidak bisa terus melaju keujung lereng lain, melainkan ditarik ke belakang oleh guard, sambil sepeda tetap dikayuh. Agak sedikit unik ya, hehe. Namun ketegangan bersepeda diatas tali besi, ditambah pemandangan asri nan hijau dan juga 'saran' dari model mentor seperti saya, haha, pasti menjadi kenangan sesungguhnya yang indah bagi para pengunjung.

Area Jajanan Berbentuk Saung Jerami

Di lembah utama, terdapat area makanan berbentuk saung-saung beratap jerami. Beberapa menu tersedia untuk siap memanjakan lidah pengunjung, meski saya sendiri tidak mencicipi rasa makanannya. Namun, makanan tradisional disana tampak menggiurkan seperti lontong sayur, karedok, ketan bakar, batagor, siomay dan lain-lain. Didepan saung-saung tadi, terdapat umbrella untuk sitting area, frame berbentuk hati, dan pohon besar tak berdaun yang bersematkan kupu-kupu buatan. Lagi-lagi menjadi spot cantik untuk berfoto-foto ria. Saran toilet, musholla, dan tempat wudu juga tersedia. Secara keseluruhan, menurut saya, The Lodge Maribaya Resort adalah tempat yang cocok untuk family trip sambil membawa pulang hasil foto-foto yang indah, Wow!

Berfoto di Love Frame 



Detil Lain
Tiket Masuk : Rp 25,ribu per kepala . Sarana Permainan : Rp 20,ribu per wahana. Pilihan Wahana : Zip Bike, Mountain Swing Atas, Mountain Swing Bawah, Bamboo Tree,Sky Tree. Harga Makanan : Lontong Sayur Rp20,ribu Batagor Rp 40,000

Thursday, October 5, 2017


Who said travelling with bike cannot be fancy and elegant. Yahama NMAX ABS 2017 offers you a convinient riding experience while in the same time the appearance of the bike will make all eyes on you, and on Yamaha of course. PT Yamaha Motor Indonesia Manufacturing has released Yamaha NMAX ABS 2017 for global sales. This is a premium class scooter which integrates a strong powerful machine, elegant design , and safety equipments which will ensure that your trip is faster, comfortable, and safe.

A statement of Elegance and Power
Speaking about design, Yamaha NMAX ABS 2017 has launched 4 different color variations. Matte Red, Matte Grey, Mate Black, and White. The jock has leather and satin texture  which  escalates the level of comfort and aesthetics of the vehicle. Cover side of the body has boomerang shape which reinforce a statement. A statement of elegance and power. Yamaha has embedded a digital speedometer and for sure, it will assist you by giving an acurate information when riding and when you want to know the distance between places you travel from and to. The handlebar at the backside is made of aluminum which once again added the value of style to Yamaha.
Image From Google


Higher Stage of Technology
As I told you, Yamaha is a premium scooter that will give you an awesome experience of riding. You can hop on its stocky yet solid body - a weight of 127 Kg- and will suddenly feel comfortable on it. Equipped with  strong  machines , Yamaha NMAX ABS 2017’s has leveled up its position as  one of the most powerful scooter matics in Indonesia. Japan’s technology embedded in this motorbike  provides you with a  4-strike (SOHC) and 150 cc -strong scooter.  Large amount of power is generated under a maximum level of 14.8 Hp on 8.000 Revoluton per Minute (RPM). With such speedy torque, the scooter will bring you to the higher and faster stage of biking. Technology of V-Belt has also been adopted to assist such maximum acceleration.  With the latest Blue Core technology and Yamaha’ fuel injection system, the speedier the scooter the more efficient it becomes in term of saving fuels. Variable Valve Actuation  (VVA) is another technology added to Yamaha to satisfy consumers’ demand on premium and speedy scooters.


Such a Riding Experience

I have told you earlier about safety driving. Driving with Yamaha NMAX ABS 2017, you will have nothing to worries. It has Anti-Lock Break (ABS) system as the name suggest. ABS will protect you when riding in slippery terrains or when you hit break suddenly due to unexpected circumstance on the road. This technology will also prevent the tires from being locked. Thus, incident could be avoided. I would suggest if you are looking for an elegant yet powerful scooter, Yamaha NMAX ABS 2017 is absolutely the right choice. If you love touring or fancy trip while enjoying safety riding experience, Yamaha NMAX ABS 2017 is ready to accompany you and to take you to the higher stage, as the motto suggest. Besides that, if you are going for picnic in the weekend, whether to beach side or mountain slope, the gloves could carry your bottle of coke too. Not to mention, the baggage under the jock is large and it can carry your belongings. Come and have a wonderful ride with Yamaha NMAX ABS 2017!


Powered by Blogger.

Follow me on FaceBook

About Me

My photo
Hello, Nama Saya Belly Rahmon or Bellmon. Website ini adalah platform saya menyalurkan hobby menulis dan menjelajah minat saya dalam berbagai Hal. Im looking for a good trip to view and meet splendid places and fab people.

Popular Posts

Recent Posts