Saturday, December 23, 2017

Karawo NYFW- Aplikasi di Kaos dan Bag
model juga memakai Upia Karanji*
Tingkat kerumitan  Karawo patut membuat seni sulaman kain khas Gorontalo ini mendapatkan perhatian khusus. Proses pembuatannya  memakan hari, dikerjakan dalam beberapa tahapan yang menuntut ketelitian dan ketekunan.  Dan, hanya manusia yang bisa mengerjakannya, tidak bisa dengan mesin. Jadi Karawo adalah hand-made bukan machine-generated. Nah, mungkin belum banyak dari kita yang tahu tentang Karawo, sebuah seni endemik yang sempat ‘menghilang’ di jaman Belanda dan digairahkan kembali karena Gorontalo tak mau kehilangan jati dirinya.  Sebagai bagian dari warga nusantara, saya rasa kita wajib berkenalan dengan Karawo, sebuah seni warisan leluhur Gorontalo bernilai luhur. Mari Jo !

Apa itu Karawo? Beruntung saya bisa bercakap-cakap dengan Agus Lahinta, seorang perancang busana dan penggiat Karawo yg juga telah mendirikan Rumah Karawo. Dari Agus, saya mendapat cerita seru tentang Mokarawo atau Karawo. Karawo adalah seni menyulam diatas lembaran kain, atau disebut juga, teknik iris-cabut-sulam. Sederhananya begitu.


Motif Hiu-Paus di NYWF-Photo by Agus
Apa uniknya Karawo?

Namun rumitnya, Karawo dikerjakan dalam 5 tahap. Wow. Pertama, merancang motif diatas lembaran kain. Kedua, pengirisan benang dari serat kain.  Pengrajin mencari serat kain lalu diiris berdasarkan motif tadi. Semakin tipis jenis kain semakin sulit mengiris benang kain tersebut. Ketiga, pencabutan. Serat kain tadi dicabut agar benang sulam nantinya bisa masuk. Keempat, pola diikat agar bentuk square bisa padat dan keras. Diikatnya pakai benang. Kelima, barulah disulam dengan benang aneka warna mengikuti pola. Setelah selesai mokarawo, kain diproses jadi aneka model pakaian, kemeja, kaos,  mukena, syal, bahkan bisa diaplikasikan di dompet, tas , jaket, dll.

Karawo Dulu dan Sekarang

Karawo dulu terbatas diproduksi untuk baju imam masjid dan warnanya tidak semeriah sekarang serta kain yang digunakan lebih monoton. Karawo sekarang, diproduksi dengan lebih banyak kreativitas , warna, dan ragam jenis kain. Karawo mulai dikenal di tanah air setelah memenangkan lomba kain se-Indonesia tahun 2007-2008 karena dinilai rumit dari tingkat pembuatannya. Lima proses berbeda dikerjakan oleh 5 perajin dengan keahlian khusus. Kain yang paling mudah diaplikasikan Karawo adalah katun sementara kain sutra adalah kain yang sulit sehingga kehati-hatian mutlak perlu agar bahan tidak rusak. Kalau berkunjung ke Gorontalo bisa datang ke daerah Telaha, Tapa dan Kabupaten untuk melihat pembuatan Karawo. Atau bisa juga datang ke Rumah Karawo-nya Uti Agus di Kota Gorontalo, instagramnya di @rumahkarawo

Sang Designer- Agus Lahinta
Bomber Jaket Bersulam Karawo
Karawo Di Luar Negeri

Motif-motif kekinian seperti Benteng Otanaha, Burung Maleo, Whale Shark dengan komposisi warna dan potongan trendi pakaian jadi solusi untuk meningkatkan citra Karawo agar lebih fashionable, wearable, dan up-dated. Dengan meningkatkan kemasan, mutu bahan, design dan aplikasi produk serta motif, Karawo telah menunjukkan pesonanya di level internasional seperti yang telah diperagakan oleh Uti Agus Lahilita di ajang New York Fashion Week, 2017. Apresiasi  terhadap Karawo di ajang tersebut sangat bagus, kata Mas Agus kepada saya. Wah hebat yah!

Karawo dan Harapan Para  Pengrajinnya   Di Gorontalo sendiri anak-anak muda sudah banyak yang memakai pakaian bersulamkan Karawo. Para pejabat pemerintah, instansi swasta , dan masyarakat umum juga memakai pakaian Karawo. Upaya pemerintah setempat melalui Karnaval Karawo adalah sebagai wujud nyata dukungan terhadap Karawo. Pemerintah Propinsi Gorontalo juga sudah menetapkan 23 Januari sebagai Hari Karawo dan Kemendikbud juga memberikan prediket Warisan Budaya Tak Benda pada Karawo di tahun 2014. Para perajin Karawo terus berharap agar pemerintah dan para filantropi konsisten mendukung penuh perkembangan Karawo hingga bisa lebih terkenal. Kita doakan ya, jadi nanti yang viral di Instagram bukan hanya Batik, Songket, atau Tenun Ikat, tapi juga Karawo. Go Go Karawo!

Ibu Resma Kobakoran, Kabid Pengembangan Pemasaran
Pariwisata Dispar Prop.Gorontalo - dalam Blouse Karawo

Aldi Inaku- Runner Up 2 Uti Gorontalo
2017 - dalam kemeja bersulam Karawo
 

*Upia Karanji- Peci Khas Gorontalo
Padanan Fashionable Karawo





















6 comments:

  1. Replies
    1. Thanks for visiting and reading my blog

      Delete
  2. Iwan Susanto12/28/17, 8:36 AM

    Gorontalo memang penuh keindahan...

    ReplyDelete
  3. Sangat dan perlu dikunjungi, ayo Bang Iwan ke Gorontalo

    ReplyDelete
  4. Tulisanmu bagus, cukup detail, foto juga bagus. Keep writing, keep blogging.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Follow me on FaceBook

About Me

My photo
Hello, Nama Saya Belly Rahmon or Bellmon. Website ini adalah platform saya menyalurkan hobby menulis dan menjelajah minat saya dalam berbagai Hal. Im looking for a good trip to view and meet splendid places and fab people.

Popular Posts

Recent Posts